Kita dan Batukaras

Berawal dari prasangka tak nyaman dan kekanakan. Sifat manusia yang dibalut pakaian menjadi penilaian yang terbantahkan. Terpikir tak mungkin nyaman. Jalan pikiran dan kebiasaan jelas berbeda. Manusia memang penuh keterbatasan. Maafkan aku Tuhan. Maafkan aku kawan.

Berpikir memang keunggulan kita, makhluk atas nama manusia. Keputusan terbulatkan. Kita lihat nanti. Aku bukan makhluk statis. Aku bisa, mencari makna yang tak biasa dari orang yang berbeda. Biar saja, proses berjalan sesuai semestinya. Kita bergerak di dalamnya. Memacu, mengaung, menikmati bersama.

Ah sulit. Sifat bawaan memang. Tak terbiasa sok akrab dan pura-pura memasang wajah menyenangkan. Untungnya mereka datang. Makhluk yang rela ditertawakan bahkan diabaikan sengan sindiran. Maaf tak paham. Terima kasih bertahan. Menjadi pendobrak pintu kebosanan. Menjadi pemecah kebekuan.

Ada keinginan tak terciptakan. Ada tak nyaman tak bisa dibiarkan. Sedikit emosi membawa penilaian kedewasaan. Pecah tangis keterbatasan. Konflik individu bermunculan. Tak tau diri. Tak tau diuntung. Merugi sekali. Batasnya muak dan silakan urus sendiri. Apapun yang terjadi sudah tak peduli. Satu dua tiga tak kaji diri. Biarkan pergi.

Ini kisah nyata. Tentang ikatan, jalinan dan kebersamaan. Bagaimana memahami, memberi dan mengasihani. Telanjang dalam perjalanan sebulan. Dalam satu atap dan tumpuan yang sama. Kemana pergi, disana kembali. Jalan pulang, diawal dicari-cari. Bertemu nyaman, semua bungkam tak mau kembali. Cukup disini. Bernyanyi kemalaman. Memutar lagu kebersamaan. Pecah, mencair, mengeras layaknya es batu yang menyegarkan panasnya Batukaras.

Dalam tetesan. Air selalu jadi biang keladi. Membuat kebodohan manusia semakin menjadi. Sudah tak ada lagi dewasa. Semua sama, kembali menjadi seolah balita mencipratkan air hujan. Tembak-tembakkan, menghanyutkan diri bersama ombak, teriakan. Semuanya kenangan. Tak pandai berenang, ketahuan. Ditenggelamkan ombak baru tau rasa. Sok - sokan. Tak ayal tetap menyenangkan.

Untuk teman sekamar
Nia, besok tak kulihat menabrak pintu lagi di pagi hari.
Emy, nada asing Negeri Sembilan yang akan jarang terdengar lagi.
Kak Valent, chidori, sunlight dan nasi goreng yang entah kapan dirasakan lagi.
Putri, Pakis forever.

Kawan serumah
Frida, cerewet yang terkadang menjengkelkan. Aneh. Ada saja topik yang dimainkan.
Nayla, jutek yang bilang lebih cocok celanaan.
Yuel, terlalu datar untuk diceritakan. Tapi terimakasih aa divergentnya.
Syafrina, Kadang merasa berdosa tak memanggilnya kakak. Selow, kalem itu sih.
Dewi, melengking suaranya. Entah kapan terdengar lagi.
Fergi dan Tessa, sulit menentukan pilihan.

Yang gak bisa dibedain kapan serius dan bercandanya
Kak Ryo, Satu-satunya cowok dengan sebutan kakak didepannya. Tempat nyaman mencurahkan pikiran. Nanti bakal jarang-jarang kak.
Rido, suaranya, gilanya, bodoh begonya. Ngejailin Putri dan Dewinya.
Roy, hahaha. Ngebecandain Emy. Skill main gitarnya. Godaannya. Entah kapan liat lagi.
Ijal, selfienya. Keras omongannya. Saklek dan blak-blakkannya. Master chef :D
Adji, ketidak jelasan nyanyinya. Pengubah nada. Lost stars.
Oge, selownya. Moodnya. Get richnya.
Cepi, datarnya. Ngeselinnya. Hahah sorry ya mungkin di hari pertama terlalu jahat

Mereka
Coba berpikir bahwa dunia ini tak hanya ada kalian saja. Coba tegas dan berani mengambil keputusan bahwa kesalahan tetap kesalahan jangan dijadikan pembenaran hanya karena dia teman. Hanya karena keuntungan.

Ke pasar.
Jembatan gantung.
Ngeronges.
Kimc*l.
Piket.
Makan malam.
Yare-Yare.
Pilot dan Co-pilot.
Mantai.
Batu nunggul.
Teriakan aaaa~ di tanjakan legok Pari.
Karokean sampai malam.
Begadang.
Kaku banget.
Bete maksimal.
Saung.
Pasir.
Bau sampah dapur.
Body rafting.
Soto.
Mobil Pak Beben.
Bahkan semua titik kenangan yang jumlahnya tak hingga.

Terimakasih atas setiap kebersamaan, kesolidan dan kenyamanan.
Maaf bila memberikan ekspektasi buruk, tak cukup tangguh membuat kalian bangun subuh. Masakan yang terpaksa dimakan demi bertahan hidup. Satu saat kita harus mengulangnya, momentnya.

Sepenuh hati
Batukaras, 6 Januari hingga malam ini 5 Februari 2015
"Keras! Tapi santai"

4 komentar:

  1. Untung masih kakak, bukan om, hahaha
    Bakal kangen pertanyaan: sekarang yg piket siapa? Ntar malem makan apa? Jatahnya berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, kalo sejak awal dipanggil om, ya rara pasti manggil om kak.
      Tambahin lah, nulis sendiri hehe

      Hapus
  2. Gatel pengen komentar soalnya ada nama akunya :o
    "Frida, cerewet yang terkadang "menjengkelkan". Aneh. Ada saja topik yang dimainkan"
    Duh maafin yaaa, pasti sering ngeselin deh, pasti sering ngerepotin deh huhuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha setiap orang punya titik menjengkelkannya masing-masing. Yang lempeng gak seru juga kali :D

      Hapus

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...