Hidup itu seperti naik sepeda, agar seimbang harus tetap bergerak. -Albert Einstein
Di sela, kuliah Pengantar Fisika Inti yang demi apapun gak ngeuh dan Saya yakini ini ilmu mungkin gak akan Saya aplikasikan banget kalo jadi ibu rumah tangga kelak. Jadi dengan alasan itu, Saya milih buat mengalihkan fokus dari Fisika Inti dan menghilangkan ngantuk dengan nulis ini di kelas.
Di sela, kuliah Pengantar Fisika Inti yang demi apapun gak ngeuh dan Saya yakini ini ilmu mungkin gak akan Saya aplikasikan banget kalo jadi ibu rumah tangga kelak. Jadi dengan alasan itu, Saya milih buat mengalihkan fokus dari Fisika Inti dan menghilangkan ngantuk dengan nulis ini di kelas.
Oke, pendahuluannya gitu aja. Nah, ceritanya pas tadi pagi berangkat kuliah Saya kepikiran semester enam yang edan banget. Baru awal tapi udah berasa dihajar habis-habisan. Maaf hiperbola. Nah pas berangkat Saya ngerasa kok berasa dikejar-kejar waktu mulu ya? Terus hidup berasa gak seimbang. Padahal di awal udah ngatur prioritas buat ini buat itu dan salah satunya adalah prioritas buat agak memanjakan diri sendiri setelah sekian lama lebih memprioritaskan hal lain. But well, prioritas tinggal prioritas. Kayaknya ini prioritas emang cocok kalo dunia diciptakan dengan 8 hari, dimana rotasi bumi lebih lama sehingga dalam sehari jadi 30 jam. Mustahil emang haha. Nah, karena prioritas yang tinggal prioritas sekarang jadi ngerasa hidup gak seimbang. Terus inget sama yang namanya gerak melingkar pas liat roda motor. Jadi ceritanya, motor yang bergerak translasi alias lurus bisa seimbang gara-gara rodanya muter atau bergerak rotasi. Nah, pada motor kedua gerak ini gak bisa dipisah kayak aku dan kamu (bagian ini penting untuk diabaikan). Kalau motor mau seimbang otomatis si roda harus muter.
Ok, garis bawahi seimbang ya. Jadi dari gerak rotasi alias muternya roda, ada yang namanya kecepatan rotasi dan kecepatan translasi yang selalu tegak lurus alias menyinggung kecepatan rotasi roda. Saat roda berputar, akan ada satu gaya yang selalu menarik partikel-partikel roda agar tetap ditempatnya dan seolah roda tertarik ke pusat atau poros rotasi. Kenalin, namanya gaya sentripetal. Nah dari sini, Saya jadi ngambil analogi. Saat-saat kayak gini, saat dimana merasa keseimbangan berantakan, sebagai manusia harusnya tetap bergerak. Berputar dalam porosnya biar keseimbangan itu kembali dan menghasilkan gerak transalasi juga kayak di motor atau sepeda. Dan jangan lupa, pergerakannya berada dalam kontrol suatu poros atau pusat yang Saya analogikan sebagai Allah SWT.
Ok, ngaco selesai.
Jatinangor, 16 Maret 2015
Diantara tumpukan tugas yang gak ada habisnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar