Dalam temaram di bawah hujan, di pojokan kampung sisi kebun Pak RT punya. Berteman semut hitam dan angin malam. Nasibmu di usia senja setua usiamu. Derai airmata menggenang, mengumpulkan (mungkin) sejuta penyesalan masa silam. Kaku tangan dan kaki sekujur badan. Prasangka baiknya Yang MahaKuasa sedang menggugurkan dosa. Luaskan kalbumu Pak Tua, istirahatlah sampai Izrail menjemput dalam siapmu.
Dalam remang malam
Aku terpaku pada air mata
Mulut yang berusaha keras bertalkin
Cimanggung, 6 Mei 2015 (H-1)
* * *
Hakikatnya Izrail menjemput bukan atas dasar siapnya makhluk, kecuali ada rahmat Allah menyertai. Isak, getaran suara memperlihatkan sisi sentimentil hati manusia pagi ini tentang adanya kehilangan bersamaan dengan ruh yang melayang. Tanda? Keakuratan tak beralasan. Sekedar rasa saja, hubungan manusia dengan bumbu cinta yang bereaksi di dalamnya. Kuyakin, bukan pergi tapi kembali. Semoga rahmat Allah mempertemukan kita lagi, di tempat indah nan abadi.
Bersama tanah merah basah
Aroma bunga kamboja yang semerbak
Cimanggung, 7 Mei 2015
* * *
Berputar kembali ingatan masa silam. Tatkala masih bocah ingusan. Sweeter loreng bak pejuang kita samaan. Dongeng radio tua dan tatarucingan semacam tebakan. Diulang tiap malam di masa silam. Sampai hapal dan benar menjawab hingga hadiah di tangan. Selalu jadi yang utama sebab tak seorang pun anak di sisinya. Waktu tidur menjelang, tatkala pendongeng lelah bersuara di seberang sana. Tengah malam mata terbuka. Sadar sang bocah tak tidur, Pak Tua paham bocah ingin pulang.
Ingatan yang tiba-tiba kembali
Cimanggung, entah kapan
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar