Penyair dan Rasa

Merangkai nada tanpa suara
Dibawah senja bersama gerhana
Merangkai asa terbatas cinta
Bersama penuhnya bulan berbalut awan
Jujur tak biasa
Mengungkap asa apalagi rasa
Yang didalam biarlah disana
Tak perlu terungkap melayang - layang
Semua berbeda di waktu tak tepat
Kurasa, baru kurasa
Seberani ombak terjang karang
Melubangi kerasnya cakrawala
Dalam temaram jingga senja
Dalam hangat menjelang fajar
Ketika bersama itu terasa
Setiap rasa yang bermakna
Lugas dengan kepolosan teruraikan
Merekam jejak sempitnya kebersamaan
Di waktu yang tak tepat
Terkadang mengundang dosa
Ingin kutinggal sebatas kenangan
Namun tak kuasa menghantam
Minta dihajar memang
Tak tahu dia penyair dibuatnya bimbang
Kutinggal atau kulanjutkan?
Ah biarlah mengalir layaknya sungai depan rumah
Cerita yang lama harus kulanjutkan
Yang baru tak mudah kutinggalkan
Memang tak bisa kupendam
Di tanah Batukaras dalam diam

Menjelang kepulangan
Batukaras, 5 Februari 2015

2 komentar:

  1. Dalam diam yang merasa
    Dalam hati yang penuh tanya
    Diantara gurau kata
    Terkesan canda ternyata bertanya
    Apakah nanti semesta kita bertemu?
    Jawabnya tentu tak sebintang pun tau
    Walau dalam kalbu tetap berharap semu
    Sedang satu teriakan pun bikin senyum seminggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kukira semesta tau, hanya pengisinya saja pura-pura tak tau.

      Hapus

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...