Hari itu, hari dimana orang-orang menunggu taring bukan sekedar unjuk gigi. Setiap orang berharap menemukan suatu seni berpedang. Cantik dan indah namun tetap penuh kewaspadaan. Sayangnya, pemahaman pemikiran yang berbeda membuat ruanngan itu menjadi hening. Hanya satu atau dua orang saja yang berkenan menyambut suguhan yang dianggap seadanya. Terlihat kebingungan menyergap mengisi seluruh ruangan. Bukan tak menemukan kesatuan, namun belum menemukan titik lemah dari kesatuan yang harus lanjut diperbaiki.
Merah padam muka penjamu. Lidah sudah hampir kelu menyajikan setiap suguhan yang bisa dibilang kurang sedap namun harus tetap ditelan. Dipaksa mengenyangkan. Disini malu. Disini kecewa. Alasan beda pemahaman tak bisa dianggap pembelaan. Tak kuasa rasanya melihat wajah kecewa. Hari yang mengecewakan. Penuh kekecewaan. Membuat berat mengangkat kepala. Sekedar menyapa dan berucap terimakasih.
Sudahlah. Sudah berlalu, meski setiap bayangan dan jejaknya mengikuti. Namun begitulah dunia. Di sumbu rotasinya yang miring, gelap harus berganti terang. Gelap pun belum tentu menyedihkan. Selalu ada bintang dan bulan yang mengindahkan. Besok pagi masih ada hari baru, yag harus dikejar dengan berlari atau sekedar berjalan. Bersama.
Jatinangor, 14 April 2015
"Seperti bukan kalian yang dibanggakan"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar