Dalam
balutan kerudung coklat, gadis itu termangu. Menatap kaca lembap yang
menunjukkan deretan kedai kopi. Nyaman, meski hanya ditemani hujan yang sudah
hampir satu jam tak kunjung reda. Sesekali tercium americano yang menambah
hangat suasana. Kepulan asapnya bahkan mampu membawanya ke masa silam dan
menjebaknya disana.
“Kopi?”
“Tidak. Aku
tak bisa meminumnya”
“Kalau
begitu pesan apa dong?”
“Coklat
hangat”
“Ah boleh. Selain
kopi coklatnya pun terkenal enak. Gue americano aja, favorit.” Dia tersenyum
memperlihatkan deretan gigi berantakan dengan hiasan taring yang membuatnya
manis sekali. Bak tersihir, aku pun tak kuasa untuk tak ikut tersenyum.
Lonceng
kafe menyadarkan gadis yang tertangkap basah sulit beranjak dari kenangan itu.
Dia tersenyum, menunduk malu sendiri mengingat senyuman penuh sihir yang masih
jelas tampak. Tanpa sengaja nama itu pun terucap kembali. Samar tersapu gelak
tawa pengunjung kafe dan langkah kaki pelayan yang kesana-kemari mengantarkan
belasan gelas kopi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar