Dua Hujan

Malam itu hujan mengguyur bumi. Bagai tahu, bumi telah lama kering. Sudah lama butuh kesegaran dan sedikit bunyi gemericik agar tak terlalu sunyi. Gambaran hati sekali. Aku berdiri menatap merasakan seolah – olah hujan membasahi hati ini. Lamunanku buyar karena panggilan dan lambaian tanganmu. Aku tersenyum dan menuju arahmu.

“Menikmati hujan lagi?”

“Iya, hehehe”

“Mending disini menikmatinya sambil ngumpul”

“Ini sudah disini”

“Iya”

Aku ikut berkumpul denganmu dan kawanmu yang juga memang kawanku. Aku duduk di sebelahmu yang sedang menikmati asap beracun. Kamu memainkan asap itu, menghirupnya hingga memenuhi ruang paru – parumu dan mengeluarkannya setelah beberapa racun itu menempel di dinding paru – parumu. Aku memalingkan muka, sedikit terganggu oleh asap itu. Kamu menyadarinya dan segera mematikan batang rokok yang tinggal seperempat.

Orang bilang kopi dan rokok adalah teman sejati. Aku tak yakin. Tapi kamu selalu terlihat yakin saat mengatakan itu. Aku percaya meski tak mau mencoba. Cukup tau dari ceritamu yang kuyakini bukan hanya padaku kamu bercerita. Seperti malam ini. Aku hanya diam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari suaramu. Sekali ku tolehkan muka demi melihatmu. Sial, yang kutangkap justru matamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...