Sesak

Di kaki gunung yang air sungainya keruh membawa lumpur. Sesekali terlihat botol suplemen yang menjanjikan 1000 vitamin C hanyut. Petikan gitar, dilawan gemericik hujan, berbentur guruh menjadi musik manis sore ini. Seorang perempuan penikmat hujan menundukkan kepala dengan pensil di tangan menggores kertas. Sesekali ia mengangkat kepala mencoba merasai semua yang ia dengar dan ia rasa.

Rapat kerja yang sesak oleh otak manusia yang gencar menyambungkan neuron tentang pergerakan. Sesaat terpikir oleh si perempuan, ini bukan sesak yang penuh aliran negatif. Ini adalah sesak yang berupa setiap rencana harus segera direalisasikan. Banyak manusia sedang menanti para penjunjung tri dharma beraksi. Si perempuan yang saat ini dengan tenang menikmati hujan, di bawah atap teduh bisa jadi merupakan pemandangan yang bertolak belakang dengan perempuan lain di balik gunung. Perempuan lain mungkin sedang risau akan anaknya yang kedinginan di bawah atap langit, atau terbebani pikiran mungkin besok tak dapat makan, bahkan mungkin ada yang sedang menanti para pelempar uang atas harga kepuasan dan nafsu yang terpenuhi. Siapa yang tahu. Saat kita tenang dan nyaman, mungkin mereka jauh dari kenikmatan yang kita rasakan. Itulah sesak yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...