Obrolan Asing

"Setiap manusia dikarunia sebaik-baiknya pakaian yaitu pakaian yang menutupi diri dari aib. Bayangkan jika Tuhan tak menganugerahi pakaian tersebut, badan pasti terasa ditelanjangi meski setebal apapun kain baju yang kita kenakan. Kita tentu tak akan mampu melangkahkan kaki karena orang akan melihat betapa buruknya aib-aib yang kita miliki"
* * *

Matahari sudah berisitirahat di peraduannya. Terangnya digantikan lampu-lampu jalanan yang berderet rapi mengikuti garis jalan. Titik-titik sisa hujan di dedaunan masih kentara memberikan nuansa sejuk dan basah di kala senja. Belum lagi ditambah basahnya aspal jalanan yang di beberapa bagian menjadi tempat air menggenang. Hari yang  biasa saat musim penghujan terjadwal di negara ini, meskipun tahun ini jadwal hujan turun jauh tidak teratur dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Hari ini adalah hari tak terduga untuk seorang gadis. Kegiatan menyusuri dan menikmati Kota Bandung bersama secangkir kopi bukan hal yang aneh baginya. Setiap obrolan dalam selingan regukan kopi pun sudah lumrah dilakukan. Tapi malam ini semua terasa berbeda. Sofa dan beberapa kursi tepat di pojok dekat jendela di sebuah kedai kopi Jalan Braga menjadi pilihan bagi ia dan delapan kawannya. Semua gawai disimpan karena hari ini mereka ingin kehangatan dalam obrolan tanpa rundukan kepala bersama gawai yang membuat kesan individualis. Sebenarnya, bukan hanya malam ini gadis itu menjadi satu-satunya perempuan bersama sekumpulan kawan laki-lakinya. Sudah biasa dan mereka semua bisa ia percaya. Namun sungguh, obrolan malam itu terasa sangat asing dan tabu untuk diperbincangkan baginya. Di belahan tempat lain mungkin akan menjadi hal biasa, tapi di tempat ia duduk belum rasanya sampai sana. Nyaman dan tidak nyaman dalam lingkaran tersebut menjadi pendefinisian yang sangat menyulitkan. Ia hanya bisa duduk diam mencoba mengikuti alur perbincangan. Sangat menarik sebenarnya, rasanya seperti dunia tanpa sekat, tanpa penutup dan mereka bebas menyampaikan semaunya.

Gadis tersebut sudah berada dalam lingkaran. Dia tak bisa hanya diam dan menguping setiap obrolan. Mau tak mau dia harus tetap terlibat di dalamnya. Sisi penolakan jelas ada, dia tak bisa semudah itu membuka diri apalagi dalam hal yang menurutnya cukup disimpan sendiri sebagai hal pribadi. Namun, lingkaran bukanlah lingkaran jika setitik saja hilang. Dia jelas bagian dalam lingkaran. Sejak obrolan dimulai, dia sudah mulai memikirkan untuk membuka diri atau tak usah. Satu sisi, dia tak ingin orang tau betapa buruknya ia, di sisi lainnya ia pun penasaran apa yang akan terjadi jika ia menceritakannya. Tiba saat dimana suatu giliran menjadi penentu keputusan. Lagi-lagi dengan dorongan dan rasa yang masih tertekan oleh diri sendiri, ia pun bercerita. Tidak mendetil namun cukup menjelaskan bahwa ia memang penuh kekurangan dan kesalahan.

Seisi ruangan menjadi terasa begitu panas, tubuhnya memanas, rasanya pipi dan wajahnya memerah. Ia seperti sedang menyalakan bara api yang semakin diberi oksigen semakin membaralah ia. Berat menahan air mata, ia seperti sedang melakukan pengakuan dosa. Masa lalu yang terkenang kelam seperti sedang dibuka lagi lembarannya. Kuburan yang sudah terbentuk tak mampu menguburnya dalam-dalam. Kenangan itu tetap bisa bangkit bak mayat hidup yang sudah busuk. Mereka bangkit hanya karena satu jentikan cerita. Satu sisi lainnya, ia merasa sedang meluruhkan beban di pundaknya. Beban yang biasa ia pikul sendiri, sedikit demi sedikit jatuh. Meski tak tahu akan berakhir seperti apa dan apa sebenrnya isi kepala kawan-kawannya, malam itu, ia hanya mengandalkan rasa percaya. Ia hanya mencoba berbagi betapa selama ini Tuhan memberikan pakaian paling tebal untuk menutupi setiap kekurangan dan kesalahan masa lalunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...