Surat Untuk Seorang Kawan

Halo kawan, rasanya canggung sekali, bahkan hanya sekedar melempar senyum dalam kegelapan. Kau tau, seperti kita baru bertemu seperempat jam lalu bertukar nama dan basabasi untuk mencairkan suasana. Padahal jika ku runut, hubungan kita tak sebanding dengan apa yang dikata nilai. Mungkin jariku memang masih bisa digunakan untuk menghitung masanya, tapi seluruh jari yang kupunya takkan sanggup menghitung setiap kenangan, perjalanan, pengalaman, dan apapun yang telah kita lalui.

Kita memang dalam suasana sederhana, aku kawanmu, kau kawanku. Kau dalam keadaan susah, aku akan disana membantumu atau sekedar membuatmu mampu menertawakan kesusahan itu. Begitupun kamu. Canda, gurauan bahkan ejekan padaku mungkin akan menjadi hal yang orang perhitungkan untuk melukai hati. Tapi untukku, itu justru seni dalam hubungan pertemanan kita. Kau bahkan sebanding dengan keluarga. Kau menjelma menjadi kakak, adik, terkadang orang tua jika sisi terlalu matangmu tiba.

Kawan aku paham, sederhana bisa saja rumit seketika. Seperti kita sekarang. Sudah kubilang, aku seperti tak mengenalmu dan kau pun seperti tak mau mengenalku. Adakah setitik nila akan merusak susu sebelanga? Jika boleh ku kata, kau kecewa, aku pun sama. Jika impas tak terlalu kasar untuk ku lontarkan, bukankah kita impas? Menapa harus terlalu lama? Mengapa rasanya kau memojokkan? Mengapa kau anggap aku sama dengan yang lain?

Ada masa dimana aku benar-benar bertekad menyudahi perasaan bahwa pertemanan kita berbeda. Kau akan ku anggap pula sama seperti yang lainnya. Tapi kau harus tau, hatiku tak semampu itu. Aku selalu beranggapan bahwa kau hanya butuh waktu untuk sekedar menenangkan pikiran setelah pertengkaran yang terjadi. Begitupun aku. Namun, pikiranku terlalu cepat mengambil sebagian sadarku bahwa kau akan memilih menjauh dan tak kembali lagi. Ini yang membuatku ragu untuk tetap mendiamkanmu. Aku selalu menganggapmu berharga, entah atas dasar alasan apa, entah jika harus dibandingkan dengan apa. Aku tak pernah tau. Coba sebutkan satu-satunya benda berharga di dunia ini, mungkin aku bisa menjadikannya pembandingmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...