18.47

Di jam yang sama ia pernah bercerita, "Aku terjatuh karena kebodohanku". Ia 'tertawa' renyah yang ditransformasikan menjadi ketikan rapi di smartphone, dusta, karena nyatanya mulutnya tetap tertutup rapi. Yang disana hanya balas bertanya 'kok bisa?' dan menyisipkan pesan hati-hati. Sepertinya ia paham kelakuanku yang sedikit tidak teratur.

Kronologis yang masih rapi tersimpan dalam chip memory 'messaging'-nya, her favorite notification for a long time. Sejak lama ingin ia hapus, dengan penuh kesadaran dan niat kesengajaan, tapi ternyata ia hanya mampu menunggu ketidaksengajaan agar menyalahkan diri tak dijadikan pilihan. Ia masih percaya menunggu adalah cara kuno terbaik yang bisa ia lakukan, meski ia paham sekali ada batas waktunya sampai kapan.

Rel kereta yang masih saja rapi di tempatnya, kerikil batu yang terserak di sekitarnya, serta orang-orang yang dengan sabar menanti commuter line Jabodetabek ditemani back sound petugas yang dengan apik dan fasih mengumumkan nama-nama stasiun untuk transit, sepertinya tak sadar jika ada seseorang yang  begitu menikmati penantian di waktu tersebut. Menanti kereta untuk pulang dan menanti sayup angin menggiring serpihan ingatan secara perlahan.

Ditulis
Minggu, 20 Agustus 2017
Stasiun Cibinong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...