Kepergian dan Kehilangan

"Menjelang meninggalnya, yang selalu disebut ya Bapakmu. Pokoknya pengen ketemu Bapakmu"

Perih. Ah rasanya dua kalimat itu mampu membawa utuh kenangan pada tahun 2012 silam. Kereta lokal yang membawaku ke Stasiun Bandung, pastinya tak pernah tahu jika sedang membawa keluarga yang sangat ingin cepat sampai. Beli tiket, lalu pulang sekedar melihat beliau dikebumikan. Sepanjang jalan, kami hanya diam. Aku begitu penasaran ingin memastikan, tetapi kuurungkan demi menahan tangis yang sudah begitu tak tahan untuk mengalir.

Sampai di tujuan, tiket tak ada.

Hujan. 

Kami batal berangkat menemui beliau yang terakhir kali kami temui 6 tahun lalu. Aku sudah tak kuasa menahan tangis. Ditinggal pergi memang selalu sakit. Tapi yang kutahu, ada yang lebih berat menanggung ini. Aku, ibu dan adikku mungkin lebih mudah untuk menangis. Aku tak mampu melihat Bapak dengan mata berkaca-kaca, lemah, lemah sekali berkata, "kita pulang. Tak jadi pergi". Tanpa tangis tapi penuh kesedihan. Ya Rabb.

Kali ini akupun merasakan kepahitan lain. Mendengar Buk De bicara demikian, aku tak mampu menginterpretasikan apapun. Aku membisu. Semuanya sudah terjadi. Pergi tanpa sempat bertemu yang dinanti.

Teriring do'a, semoga kelak Allah pertemukan kami di SurgaNya. 

Allahummagfirlaha warhamha wa'afihi wa'fuanha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...