Pernah berbicara sendiri? Lalu tiba-tiba terasa ada yang menjawab setiap hal yang sedang kamu bicarakan (bukan cerita horror)? Atau saat kamu hendak melakukan sesuatu atau bahkan setelah melakukan sesuatu, tiba-tiba kamu merasa apa yang kamu lakukan adalah salah atau sebaliknya? Mungkin dia ‘hati’mu.
Bagiku, ‘hati’ bukan sekedar organ dari tubuh manusia. Bagiku ‘hati’ adalah suatu dimensi yang bisa menjadi tempat terbaik untuk dijadikan acuan bagaimana diri kita, atau menilai apa yang akan dan telah kita lakukan. Semacam juri terbaik saat suatu perkara sulit ditentukan kebenarannya atau ragu karena kurangnya pemahaman hukum agama atau hukum lain yang berlaku. Dia adalah ‘seseorang’ yang akan selalu jujur menilai apa yang kita perbuat.
‘Hati’ penting sekali untuk dijaga agar terhindar dari polusi yang akan membuatnya tercemar, dirawat agar tidak sakit dan terluka berkepanjangan, dilindungi agar tidak terkena kejahatan - kejahatan yang tak layak menyentuhnya. Allah benar-benar mengatur ‘hati’ kita akan seperti apa tergantung bagaimana kita memperlakukannya. Kita memperlakukan ‘hati’ dengan baik, tentu Allah akan mengaturnya menjadi baik.
Bagi kamu yang sedang berusaha untuk memperbaiki diri, rasanya tentu akan kesal sekali jika mendengar perkataan seperti ini.
A : Kok, elu masih sama aja kayak yang dulu. Hijrah lu cuma di foto doang.
Ketika kondisi ‘hati’mu buruk, pastinya kamu akan menyangkal dan mungkin marah. Kamu sedang begitu berusaha, bukannya didukung, temanmu justru menjatuhkan. Tapi ketika kondisi ‘hati’mu baik, hal pertama yang ‘hati’mu sampaikan pada otakmu adalah logika "mungkin yang orang-orang lihat darimu memang seperti itu. Jangan marah, bersyukurlah. Ia telah mengingatkanmu”. Kamu bisa memilih untuk marah atau justru berterimakasih. Terkadang pilihan terbaiknya ada di hatimu. Mulut boleh jadi berkata tidak, lain dengan ‘hati’ yang berkata iya.
Jadi, sesekali cobalah bertanya, “Hati, apa kabar?”
“ Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar