Aku berusaha tak membenci koma yang memberi jeda. Karena setiap jeda memberikanmu ruang nafas agar lantunan cerita mengalun anggun tanpa terburu penuh gesa. Bahkan tak apa melapangkan dada untuk titik. Berhenti. Karena ada kalanya perhentian berarti kesempatan untuk memilih, cukupkah jadi sebatas kalimat atau dilajutkan untuk membangun paragraf? Atau haruskah hingga prosa dan sekuel - sekuel yang akan dibangun? Begitulah titik bekerja. Berhenti atau berhenti untuk melanjutkan. Bahkan harus diingat jika setiap garis (lurus, lengkung, parabola, segala jenis garis pokoknya) terdiri dari komplotan titik yang bekerja dan bertujuan sama, bukan? Jadi tak ada salahnya mengikuti aturan titik untuk berhenti dan melanjutkan garis hidup yang baru atau memperbaiki yang lalu.
Ah jangan lupa titik koma yang membuat programmu sempurna ??
*programmer mungkin paham
Tidak ada komentar:
Posting Komentar