Nasihat

Menasihati dan menerima nasihat itu gampang - gampang susah, bener gak? (Gak setuju juga gapapa kok :) Kenapa saya bilang seperti ini? Gara - Gara kejadian hari ini.

Saya dan adik ditakdirkan menaiki angkot yang supirnya menurut ukuran saya dan penumpang lain agak mengesalkan. Supir ini dengan asal membawa angkot dengan ngebut dan dua kali mengerem mendadak gara-gara hampir menabrak pengendara lain. Makin ngebut gara-gara ada 4 penumpang yang gagal diangkut karena kondisi angkot yang sudah penuh dan gak bisa digeser-geser lagi. Penumpang lain sudah protes dengan bisik-bisik untuk jangan terlalu ngebut. Didengar atau tidak, Pak Supir tetap anteng bawa angkot tanpa seni berkendara yang baik. Saya, tipe yang greget sama kejadian ini memutuskan untuk ‘menasihati’ Pak Supir saat membayar. Ongkos yang tadinya akan dibayarkan oleh adik, saya ambil dengan niatan akan menyampaikan 'nasihat’ tadi. Saat turun dan membayar, saya sampaikan, “hati-hati A, bawa nyawa orang”. Titik. Ini angkot ternyata berhenti agak lama lalu keluarlah Supirnya sambil bertanya, “Naon neng? (Apa neng?)”, yang menurut adik saya itu menyeramkan.

Disini saya melihat bahwa tidak setiap kebaikan bisa diterima dengan baik. Menerima nasihat perlu suatu kelapangan hati hingga timbal baliknya adalah bukan perasaan dikritik, 'dinyinyir’, atau direndahkan. Tapi perasaan syukur masih ada orang yang peduli dan bersedia mengingatkan serta memberikan nasihatnya. 

Ah saya tidak ingin pembenaran disini. Saya ingin mengevaluasi karena penyampaian 'nasihat’ yang saya lakukan juga kurang baik. Dibalut kesal yang seharusnya, berdasarkan rencana saya, saya sampaikan dengan jelas tapi tetap dengan nada yang ramah. Gagal. Default suara saya emang judes dan saklek. Untuk beramah-ramah, wah agak sulit jika tak dilatih. (alasan hehe). Tapi disini saya paham betul bahwa mengingatkan kebaikan juga harus dilakukan dengan cara yang baik jangan sampai berbuntut keburukan. Saat orang yang akan diingatkan sedang kesal harusnya tidak kita ingatkan dengan kekesalan juga. Dalam kasus yang lebih luas lagi, nasihat yang kita berikan juga harus dilandaskan pada ilmunya. Jangan sampai nasihat kita adalah nasihat yang jauh dari apa yang Allah suka. Wallahu'alam bishawab 

“Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS Thaha [20]: 25-28)

PS : Semoga diizinkan bertemu Pak Supir kembali dan bisa mengklarifikasi

021217

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...