“Aku ingin ke Malang. Mumpung lagi disini”
Aku ingat, kamu terlihat berpikir.
“Aku Cuma akan mengingatkan, kalau mau ikut setidaknya jangan cewek sendirian” Kamu melanjutkan, “Kamu pahamkan dosanya?”
Aku tercekat. Susah payah bilang iya.
“Nah yaudah kalo paham”
“Tapi kan mumpung disini, nanti - nanti belum tentu bisa dan ada waktu”
“Iya sih, tapi ya aku Cuma bisa nasihatin. Jadi terserah kamu”
“Gimana sih, ngizinin aku ikut gak?”
“Enggak kalo cewek sendiri”
“Baiklah”
Mungkin, perjalanan panjangmu, perjalanan yang membuatmu harus berpisah dengan keluarga berhari – hari bahkan berbulan – bulan adalah suatu perjalanan yang mengantarkanmu hanya untuk duduk pada sebuah meja. Berbicara panjang lebar tentang setiap luka, perih, marah, harap, dan kecamuk yang selama ini hanya bisa kamu pendam. Tanpa tangis kamu bersedih, tanpa suara kamu marah. Kamu paham betul, Tuhan selalu mendengar keluh kesahmu. Pasti. Tapi di sisi lain, di sisi imanmu yang lemah, kamu hanya butuh teman bicara, tak apa dia tak begitu memahamimu, tapi setidaknya dia mampu menenangkan pikiran dan iman yang masih kau tata dalam – dalam.
Waktu itu hujan rintik – rintik enggan memperjelas akan deras. Tapi rintik selalu cukup menyejukkan dunia yang seharian dibakar mentari. Hari itu, kamu hanya tau ingin menyeruput secangkir kopi serta menghirup setiap energi dari aromanya. Kamu rindu pahit, manis yang tipis, dan kehangatan yang selalu berhasil melapangkan dadamu. Tapi kopi memang selalu menjadi bagian menarik dari skenario Tuhan. Kopi menghadirkan kawan bicara yang membuatmu hanyut hingga tenggelam dalam emosi yang terpendam.
Di meja itu, ada kamu, dia, kopi rempah dengan ampas yang lembut, roti dan pisang bakar, serta coklat yang dia pilih. Jika kamu menutup mata dan mengingatnya lagi, senyummu tak pernah tak menyungging. Di meja itu, kamu benci dikritik, benci dievaluasi, benci disalahkan. Saat itu kamu hanya ingin didengar. Sungguh, bentuk keegoisan manusia yang memposisikan diri menjadi korban, hanya tahu tentang ingin dimengerti. Dasar keras kepala.
Namun, satu yang selalu bisa disyukuri hingga detik ini. Kekerasan kepala yang kamu tanggung, luluh hanya karena nasihat. Nasihat dengan cara yang kamu senangi, berpikir dan menggali kesadaran yang sudah kamu pahami. Entah dia sadari atau tidak, keegoisan yang kamu bangun runtuh melalui jalan nasihat sederhana ia sodorkan.
Kamu saat itu, ya sesederhana itu, hanya butuh dilarang atau dinasihati. Karena nasihat sederhana itu, kamu merasa eksistensimu sebagai wanita begitu nyata. Begitu diharga. Bukan serba dibiarkan melakukan hal yang lebih banyak mudharatnya. Bukan hanya wanita, setiap manusia tentu pernah merasakannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman
Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...
-
Allāh ﷻ telah mengabarkan di dalam Al Qurān bahwa Allāh ﷻ memiliki nama dan sifat. Allāh ﷻ berfirman : ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﭐﻟۡﺄَﺳۡﻤَﺎٓﺀُ ﭐﻟۡﺤُﺴۡﻨَﻰ ...
-
Gurau inilah awalnya Menerbitkan sapa tatkala jumpa Menerangi tawa tanpa lelah Menenggelamkan lamunan kala malam Semua ini diluar hitun...
-
Kala gelaran siang digulung malam Pecah kepala menelusuri jalan Jengkal peristiwa kala bumi berotasi Rinci, mencoba tak melewatkan detil ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar