Di tengah tugas kelas yang tak kunjung usai, aku pernah nyeletuk,
"Apa salahnya sih jadi wanita yang serba bisa ini itu sendiri? Kenapa kalian, hei kaum Adam, sepertinya sulit sekali menerima wanita yang lebih pintar, lebih kuat, lebih kaya, pokoknya banyak lebihnya dibanding kalian buat dijadikan teman hidup?"
"Kamu tahu? Gak ada salahnya dengan wanita mandiri, juga wanita cerdas dan kuat. Justru kalian sangat dibutuhkan. Tapi untuk memilihnya menjadi pasangan hidup tentu ada syarat yang kami pasang sebagai kaum lelaki. Untukku pribadi, jelas keberatan jika ia, wanita yang akan kujadikan teman hidup, dia lebih mendominasi padaku. Seolah-olah ia tak butuh aku sebagai prianya"
"Maksudnya?"
Obrolan itu terhenti dan tugas, yang selesai tidak selesai, harus dikumpul.
"Maksudnya adalah..." Sambil keluar kelas, kemudian mengganti posisi standar sepeda agar siap dikendarai, ia melanjutkan, "Ya semacam kami butuh dihargai sebagai lelaki"
"Lho siapa bilang kita gak bisa menghargai posisi kalian?" Mencoba sesantai mungkin dan tak tergesa bertanya, walaupun nampaknya tidak.
"Ngasih tau aja ya, dengan karakter kamu, yang kamu bilang dominan, makanya kamu butuh yang lebih bisa mendominasi, ini menunjukkan bahwa kalian tetap wanita yang butuh perlindungan dan bimbingan. Menurutku, seharusnya kamu juga belajar menahan dominasimu untuk melakukan ini itu sendiri, bahkan yang bisa jadi kelak membuat teman hidupmu merasa tak dibutuhkan. Jangan sampai teman hidupmu merasa tak berguna sama sekali. Kami berusaha tetap belajar di posisi kami untuk bisa melindungi, membimbing dan menafkahi, kalian, sebagai wanita, juga harus belajar untuk bisa dipimpin, dibimbing dan dinafkahi"
Aku hanya diam, mencoba berpikir dalam. Teman perjalananku ini, tofu-eating man, memberi paradigma yang membuatku menemukan sesuatu yang baru malam itu. Bahkan, semilir anginnya membuatku teringat kembali dan mempertemukanku dengan kalamNya beberapa bulan kemudian,
"... Dan para wanita yang mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya.. " (Al-Baqarah : 228)
"Kaum lelaki adalah qawwam atas kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah menjaga mereka..."(An-Nisa' : 34)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar