Di atas adalah salah satu judul buku yang malam minggu kemarin baru diselesaikan. Isinya berupa cerita dan prosa buah pikiran dari Masgun alias Kurniawan Gunadi sang Penulis. Hmmm, awal baca buku ini sudah merasa "duh gue diomongin nih" haha. Setiap judul prosa atau ceritanya, setidaknya meninggalkan kesan. Sejujurnya, selama baca buku ini, Saya benar-benar merasa dirayu. Pokoknya selalu dibuat speechless gara-gara ya itu tadi latar belakang perempuan yang digambarkan adalah para perempuan yang kuat, sedikit tomboi, para perempuan yang berusaha berdamai dengan masa lalu, dan banyak detil lainnya. Bukannya GR, cuma ya rasanya Saya begitu. Kuat tapi selalu ingin ada yang lebih kuat, tomboi tapi pada dasarnya perempuan juga, dan masih banyak hal lain. Nah selain buat para perempuan, Masgun juga mengajarkan banyak hal untuk para laki-laki. Dia mengajarkan para laki-laki untuk kuat dan jadi Pejuang. Banyak pesan cantik untuk kita, Laki-laki dan Perempuan.
Oke, kemampuan Saya untuk menyampaikan penilaian memang segitu adanya. Dalam hati sih begini-begitu, tapi kalau harus diceritakan pasti mentok. Haha. Jadi, silakan baca sendiri saja. Yaudah, mau ngutip, minjem beberapa kalimat yang Masgun tulis dan tentunya sangat Saya suka.
"Kalian tahu, meski aku tomboi seperti ini, di dalam diriku ini tetaplah perempuan. Meskipun aku tahu kalian melihatku sangat kuat dan tegar, sangat mandiri, aku merasa tetap membutuhkan sandaran, tempat dimana aku bisa merasa tenang. Ah, susah sekali menjelaskannya, kalian bukan perempuan, sih!" -Suatu Sore di Bawah Pohon Randu
"Dan kamu tahu bagaimana rasanya berdamai dengan masa lalu? Mungkin sama rasanya ketika kamu menceritakan tentang dirimu sendiri dengan leluasa kemudian aku bisa menerimamu. Tidak hanya kamu sebagai jasad, tapi juga dengan masa lalumu. Kamu mengakui kesalahanmu itu sebuah langkah baik" -Kamu Baik, Masa Lalumu Tidak
"Aku ingin menyelamatkannya dan bisa bersama-sama dengannya ke surga. Gadis sebaik itu tidak sepantasnya mendapatkan murka-Nya" - Keyakinan
"Aku bukan pilihan, aku tujuan" -Tujuan
"Masih ada waktu, terlambat adalah kata-kata orang putus asa" -Meminta waktu
"Aku kepadamu adalah seseorang dengan orang lain yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli padamu, itu semata karena aku tidak tahu tentang bagaimana cara mengatasi perasaan. Setidaknya aku mampu menahannya dengan cukup mendoakan. Aku menahannya untuk tidak lebih dari itu" -Diam-Diam Peduli
"Kebanyakan orang menulis tentang penantian, menunggu. Tidak tahukah mereka betapa beratnya menjadi orang yang dinanti, ditunggu?" -Ditunggu
"Karena ayahmu ingin mengajarimu shalat berjamaah di rumah, merasakan nikmatnya berjamaah bersama kamu dan adikmu. Ketika sudah besar bukankah kau yang disuruh menjadi imam? Ayahmu ingin mengajarimu menjadi pemimpin. Di sisi lain, ayahmu pasti menyeret-nyeretmu ketika kau malas ke masjid, jika tidak ada shalat berjamaah di rumah. Kau ingat, bukan? Makanya sebelum kau menikah, rajin-rajinlah berjamaah di masjid. Kelak kalau sudah menikah, kau akan memikirkan pertimbangan-pertimbangan seperti itu. Anak-anakmu harus tahu rasanya shalat berjamaah bersama di masjid, dan kehangatan shalat berjamaah di rumah. Kau tentu tidak akan meninggalkan istri dan anakmu di rumah sementara kau rajin berjamah di masjid, bukan?" -Tentang lima waktu :)
"Hmm. Bukankah kamu sering lihat, Nak. Orang yang diberikan amanah yang sederhana bahkan terlihat sepele tapi tidak dilaksanakan dengan baik. Tidak dikerjakan atau justru dia malah meninggalkan amanah itu. Orang seperti tidak pernah pantas untuk menerima amanah yang lebih besar" - Hal Kecil
"Bangunlah dan wujudkan. Kesempatan hidup kita hanya sekali itu pula kita bisa menjadi berarti. Dan kita tahu bahwa tidak ada yang mampu mengubah takdir kecuali doa. Dan Allah akan mengubah nasib kita selama kita mau dan bergerak untuk mengubahnya" -Impian
"Sayangnya, tidak semua laki-laki tahu jika mereka sedang bertugas menjaga empat kehidupan sekaligus. Seandainya tahu, niscaya sangat sedikit waktu untuk bermain-main" -Hidup Laki-Laki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar