13 April 2017 3:25 pm WIB

Menunggu jam mengajar yang masih lama, daripada mengantuk lebih baik menulis secuil pengalaman. Sekalian menyalurkan rasa iri kalau melihat orang-orang posting sesuatu yang isinya penuh hikmah, iri pisan jadinya (bolehkan ya Allah? hehe). Makanya ditulis, disebar yang mudah-mudahan bisa jadi pengingat minimal untuk diri sendiri.

Sebenarnya sekarang-sekarang ini sudah tidak terlalu asing kalau, misal, saat ke kondangan muncul pertanyaan, “kapan nyusul?” (wait, nyusul kemana nih? :D), “calonnya orang mana?” (ini pertanyaan ke ibu biasanya, dan aku selalu minta bilang saja bu orang S, besoknya bilang saja orang B kan belum tau juga wkwk), “Saya lamar boleh?” (Belum ada sih kalo yang nanya ini haha). Dari semua pertanyaan itu akhirnya menimbulkan suatu desakan “ah kudu buru-buru”, “mau nikah muda pokoknya tapi gak mau pacaran agar segera diajuhkan dari zina”, agar cepat bahagia juga (katanya). Berdoalah aku sama Allah, mau mendapat yang kriterianya begini, begitu, harus ini, harus itu sampai pada akhirnya disentil sama Allah.

Jadi, ceritanya adalah gara-gara keinginan menikah tersebut, yang mengekor alasan semacam agar tak lagi banyak yang bertanya, agar bisa ada yang antar-jemput (ini sih butuh supir wkwk), agar saat mengerjakan skripsi ada yang menemani begadang, dan banyak ‘agar’ yang lainnya, didukung juga dengan seliweran di sosmed tentang menikah yang semakin hari semakin banyak dan membuat keinginan menikah meningkat haha. But one day, entah tepatnya kapan, seperti diingatkan, “mau ngapain nikah?”, “niatnya apa?”, “udah punya bekal apa?”, “udah siap?” (STAB) dan finally kesulitan sendiri menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. Berdoa mau yang ini, mau yang itu sama Allah tapi diri sendiri sudah jadi cermin sesuai yang diinginkan belum? JLEB lagi, sudah mendekati yang mempunyai jodoh untuk kita belum? Sudah benar di mata Allah belum? Ah JLEBSTABJLEBSTAB pisan. Allah mah asli Maha Penyayang ya, aku yang tadinya sebatas mau dikasih jodoh yang baik, justru Allah tawari dan arahkan untuk memperbaiki diri, membenahi diri agar orientasinya bukan sekedar jodoh tapi benar di hadapan-Nya, agar mendapat kebahagiaan di akhirat-Nya. Kalau mendapat akhirat, insyaAllah mendapat dunia juga. Hasilnya terasa, kalau orientasinya hanya ingin jodoh pasti jadi mudah baper, melihat teman seperjuangan menikah, duh aku kapan? wkwk. Tapi, kalau orientasinya adalah mendekatkan diri kepada Allah, rasanya beda sekali. Ada yang bertanya soal menikah bawaannya sudah tidak risi lagi, malah bawaannya tenang, semakin ingat kalau semua sudah diatur Allah, belum saatnya saja, kalau tidak bertemu di dunia, tak apa-apa di akhirat yang sudah jelas kekal.

Jadi seperti itu. Bisa simpulkan sendiri :D

Ya Allah, hijrah itu berat, istiqomah apalagi. Bersamai aku selalu, kuatkan aku agar lurus di jalanMu. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...