Lebih Kurang 60 Hari

Mereka adalah orang-orang yang hampir selama bulan Desember 2016 menemani di Pare dan selalu bertemu sejak jam 05.30-18.00, anak Efast 1A Elfast. Harusnya ada 27 orang, tapi yang sempat ikut foto ya hanya ini. Baiklah, aku akan bercerita dan mungkin menyampaikan semacam kesan, ala pengamatan aku. :D


(Dari kanan ke kiri, garis depan ke belakang)

Kang Yogi. Satu-satunya orang yang memakai topi di foto ini. Katanya dia adalah yang paling tua diantara kita semua. Akang ini orang Garut, makanya aku memanggilnya akang. Hmmm aku tidak ingat kapan pertama kali menaruh perhatian terhadap Kang Yogi, hanya seingatku, Kang Yogi pernah duduk di belakangku dan bilang, “Oh, jadi kamu Ksatria”, sempat cengo dan tidak paham sampai akhirnya ingat waktu itu sedang memakai jaket yang bertuliskan ksatria di punggung. Kita menjadi lebih akrab saat berada di kelas translation dan writing juga saat pertama kali ngopi bareng. Akang mah memang karakter orang sunda pisan yang resep heureuy, kalem dan kalo mendengar dia berbicara terasa Garutna kentel pisan. Semoga cita-citanya kerja di Jepang (iya kan kang?) tercapai. Aamiin

Rahmad. Partner Kang Yogi, partner pertama speaking face to face-ku. Saat pertama kali ngobrol, dia bilang tahu bahasa Sunda dan ternyata yang dia tahu adalah kata aing, ah sudah bisa ditebaik orang ini bagaimana hehe. Sering sekali memintaku untuk tag tempat duduk, tapi setelah itu dia malah duduk di tempat lain. Sering sekali mengajak ngopi bareng, tapi tidak pernah sekalipun memesan kopi untuk diminum. BIlang-bilang ya kalau mau ke Bandung, mad.

Zul. Orang kedua partner speaking face to face. Sejujurnya aku lupa nama panjangnya apa, Zulfajri bukan ya? Zul adalah orang Aceh yang sempat membuat aku berpikir “gilak, jauh-jauh dari Aceh ke Pare ini anak, gak ada tempat belajar lain apa disana”. Satu yang selalu aku ingat dari Zul adalah game sebut nama di kelas speaking. Ritme tepuk tangannya selalu berbeda, orang-orang selalu menyebut namanya dan membuat aku selalu ingat kalau namanya Zul (gak tahu tapi panjangnya apa) wkwk. Tapi pada akhirnya, dia berhasil menyamakan ritme dan berhasil tidak dihukum. Yeah. Dan satu hal, saat melihat dia naik kereta untuk pertama kali. :)

Ningsih. Asalnya dari Padang dan kalau mengobrol aku harus memasang telinga lebar-lebar karena bicaranya pelan. Ternyata Ningsih asik juga diajak bercanda dan aku baru tahu menjelang pulang. Kita barengan terus selama ke Bromo. Oh iya makasih buat foto-foto yang kamu ambil dengan aku sebagai objeknya hehe. Bagus.

Thiya. Kita seangkatan tapi dia selalu keukeuh memanggil aku teteh, katanya dia lebih muda, tapi aku tidak benar-benar percaya. wkwk. Yang aku ingat dari Thiya, dia sering tidak masuk kelas, bahkan pas bulan pertama gara-gara sakit harus pulang dan lama tidak masuk kelas. Tapi kerennya bisa lulus ujian dengan cepat. Salute. Aku juga tertarik karena dia Anak TI, entah kenapa kalian selalu membuatku tertarik.

Dian. Teman satu camp aku. Medok Jawa sekali kalau bicara. Aku kagum denganmu. Dua kejadian yang membuat aku kagum adalah saat ada masalah di Camp, saat semua orang mencoba menebak dan kesannya malah gak baik, kamu dengan tegar datang ke dalam lingkaran tersebut dan meminta semuanya jangan menebak-nebak sendiri, dan meminta orang yang terlibat masalah saat itu untuk menyelesaikannya dulu denganmu (ah sulit menjelaskan, semoga tidak ambigu), aku respect.  Sama pernah satu pagi, aku yang mau menjemur baju, melihat kamu dalam gelap berusaha menghafal vocabulary, subuh-subuh saat yang lain masih tidur. Ingat sekali kalo kamu sering bilang ‘gak bisa apa-apa’, tapi aku melihat kamu lebih hebat dengan usaha gigihmu. Terima kasih, hari itu, kamu sudah membuatku tetap belajar dan berjuang. ^^

Eca. Si bungsu. Cerewet, rame, riweuh dan apapun yang membuat rame ada padanya. “Eca jangan Eka, karena Eka kayak laki-laki” (nama aslinya Eka), katanya. Percaya Dirinya tingkat tinggi. Orangnya juga, kalau aku boleh bilang, hatinya lembut. Saat aku sulit menangis, dia sepertinya gampang sekali hehe. Banyak hal yang selalu membuat aku senang yang datangnya dari Eca. MAkasih dek

Miss Fajri. Tutor kita. Tidak tahu kenapa selalu merasa kalo miss ini sepertinya mempunyai karakter yang tidak jauh beda denganku. Perempuan yang kental jiwa Laki-lakinya. Tapi selalu membuat aku kagum. Orangnya cerdas, asik, dan hal yang kita sukai sama haha. Miss you Ms. Fajri.

Naila dan Rhesti. Sampai sekarang masih berusaha bilang Kak Naila dan Kak Rhesti, tapi susah. Maafkan aku. Yang aku ingat dari mereka berdua adalah mereka selalu bersama dalam suka dan duka serta konsisten kalau bicara sulit terdengar. Jangan bandingkan dengan aku yang gorowok desa.

Albert. Orang ketiga partner speaking face to face. Kesan pertama, orangnya sepertinya akan kalem dan pendiam. Tapi semua berubah saat kata-kata maut keluar dari mulutnya. Pasti lucu dan memecahkan tawa. Orangnya ternyata tidak bisa dibilang kalem. Kalau bertemu di lorong Elfast, dia selalu bilang ‘eh legend’ dengan nada khas wkwk. Kata-kata yang keluar dari mulutnya juga ternyata mutiara kadang-kadang. Apalagi selama perjalanan di Bromo, tidak akan ada habisnya tertawa. Semoga selalu sholeh bet ya.

Kak Nauval. Awalnya mengira dia anak 2013 karena wajahnya yang baby face (gak bisa ngeles soal ini). Eh ternyata sudah tua, yang awalnya memanggil tanpa embel-embel ‘kak’, jadinya aku tambahi. Kak nauval, aku menganggapnya sebagai teman sebangku selama kelas writing dan translation, karena duduk kita selalu bersebelahan. Tidak pernah menyangka akan dekat (gara-gara suudzon hehe astaghfirullah). Orangnya asik, baik, suka bercerita banyak hal apalagi kalau sudah mengantuk haha, suka sekali dengan tahu elfast sehingga aku menyebutnya tofu-eating man (nanti kalo gue gak lupa, kalo kita ketemu, gue bawain tahu Sumedang), jelly man juga (ini gara-gara tes MBTI dan salah satu sifatnya adalah jeli, tapi dia plesetin jadi jelly), orangnya juga cerdas, dan rajin sekali memikirkan negara, menurut gue lo keren kak. Hal yang selalu aku ingat dari Kak Nauval adalah ‘apa yang mau kita lakukan buat negara’, motivasi untuk terus belajar dan mewujudkan mimpi, serta nasihat di suatu malam yang membuat aku memutuskan untuk belajar memposisikan diri sebagai ‘perempuan’. Terima kasih untuk rekomendasi film yang harus ditontonnya. Ah satu lagi, jangan takut untuk memberi nasihat kak walaupun kita belum sempurna melakukannya sendiri, menurut gue, lo udah punya kapasitas itu. Gue tunggu kabar Lo udah di Belanda ya.

Wawan. Salah satu orang yang kepulangannya membuatku sedih. Entah mengapa. Bisa jadi karena tahun baru main WW dan merasa akrab atau mungkin gara-gara Wawan ini fans berat Ms. Fajri (abaikan ketidaknyambungan ini). Kelakuannya juga lucu, siapa sangka dia bisa sekocak itu. Haha. Pertama kali bertemu di warteg depan Elfast, dia sedang makan dan ripuh gara-gara kepedesan. Berkenalan dan mengaku angkatan 2013 padahal sudah tahu kalau dia adalah angkatan 2011. Failed wan. :D

Reyfo. Awalnya aku mengira anak ini lebih tua dari aku hehe (sorry fo), ternyata jauh lebih muda. Anaknya pintar, serba ingin tahu juga wkwk, tapi dia selalu mengatakan kalau aku adalah orang yang tidak terlalu dia tahu. Saat dia memanggil ‘mbak ra’ khas sekali dan belum pernah aku mendengar dari yang lain. Selamat berjuang untuk kuliahnya fo. Sorry banget kalo sering cuek, dan jangan sering-sering galau ya.

Heru. Kesan yang aku dapat sejak pertama kali masuk kelas, mulai dari kelakuannya yang tidak biasa, perkataannya juga, rasa excitednya kalau belajar di kelas. Terasa kalau dia tidak ada, kelas lumayan sepi.

Teh Anne. (Aaa~k bighug). Sekampus, sefakultas dan gedungnya relatif berdekatan, tapi kita bertemu harus di Pare. Saat pertama bertemu mengira teteh lebih muda dari aku, dan saat berkenalan untuk pertama kali merasa sudah pernah bertemu sebelumnya tapi entah dimana (mungkin di kampus). Si teteh pinter, partner belajar BP1 dan BP2, yang seringkali aku merasa teteh ini macho tapi tidak juga (gimana ya bilangnya), yang baik sekali, dewasa sekali, kalem, netral dan merasa punya teteh sendiri. Terima kasih teh, sudah menemani selama di Pare. Rasanya enak bisa bercerita banyak dan belajar sama teh anne. Saat pulang, sejujurnya aku merasa sedih saat dipeluk hehe. Kalau sudah pulang, kabari ya teh, kita bertemu. Semoga selalu bahagia, sukses, dan ditunggu undangannya tahun ini plus tiket kereta wkwk

Kak Mimi. Kalau mengobrol sama kak mimi pasti kental sekali logat Padangnya. Kakak yang selalu mengajak makan di mie Judes dan orang pertama yang memperkenalkan aku dengan mie Judes. Ternyata kita punya kenalan senior yang sama juga, merasalah dunia ini sempit.

Alfid. Tidak ingat pertama kali menjadi akrab kapan. Orangnya kalem (tapi enggak juga), ingat kalau menjawab pertanyaan di kelas, selalu santai. Orangnya baik, banyak sekali bantuan yang sudah aku dapat dari dia. Terimakashi sudah sering membantu dan mungkin gak bisa gue balas satu-satu. Maaf juga, gue ngerasa banyak salah selama ini. Semoga cita-cita lo tercapai, mau jadi dosen ya? Gue bantu do’a yaaa

Esza. Ini adalah orang yang selalu disebut namanya seminggu awal tapi tidak pernah ada dan baru ada di minggu kedua. Banyak pelajaran yang rasanya aku dapatkan dari Esza secara tidak sengaja. Buruan nikah sa, udah hampir bosen nih medengar obrolan kamu kesana mulu. Haha. Tapi makasih untuk pelajaran dan pengingat yang mungkin gak sadar sering aku renungkan.

Mas Rifqi. Siapa lagi kalau bukan Pangeran Arab. Awal mula aku menebak dia bocah (masih anak SMA, ah menyesal sekarang). Duduk memeluk lutut kemudian badannya yang tidak menghabiskan banyak tempat, sudah cocok aku jadikan indikator kalau dia bocah, tapi ternyata dia lebih tua (tau dari Rahmi). Obrolan pertama kita adalah Tv Series dan IT. Kalau meminjam catatan, hanya berdiam diri di depan kossan dengan wajah datar. Dari situ mulai banyak obrolan apalagi saat sama-sama paham soal WW. Sadar kalau Mas seorang stone-hearted man, yang bodo amatnya keterlaluan, menyebalkan, dan kalau bicara ngegas (khas Surabaya) kemudian membuat sadar ‘kok kayak liat diri sendiri versi Cowok’. Terima kasih telah bersedia mengajari aku SQL dengan gaya khas, untuk segala sumber kengakakan dan memahami kebodoamatan aku, terima kasih juga udah selalu keras mengingatkan, bae. Nanti Ramadhan kita temu keluarga ya, hahaha.

Terimakasih untuk kalian semua yang sudah menggagalkan rencana individualis dan rencana anggun aku. Semoga setiap kabar apapun bisa tetap datang dari kalian dan hubungan kita selalu terjalin.

I thank you from the bottom of my soul ^^

9 Desember 2016 - 13 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[SI 04] Halaqah 07 - Rukun Iman

  Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana...