(Biasa, ngaco dulu aja biar bisa dibuka nanti)
Belakangan aku senang memperhatikan akun ig @retnohening milik Ibuk Retno alias Ibunya Kirana dan Rumaysa. Selain cara mendidik dan bermain dengan anak-anaknya, aku memperhatikan Ibu Retno ini cerewet ya? Hehe, apa - apa selalu ditanyakan oleh Ibu pada Kirana bahkan sama Rumaysa yang masih belum bisa bicara. Sempat terpikir, "Bu gak cape?" dan "kok selalu ada saja yang kepikiran untuk dibahas?".
Aku juga membaca blog kikibarkiah.wordpress.com milik Bu Kiki. Hampir pada setiap tulisan yang berisi dialog beliau dengan anak atau anggota keluarganya, porsi bicara Bu Kiki selalu lebih banyak dibanding anggota keluarga yang lainnya. Bahkan saat anaknya hanya sekedar membalas yes atau no atau maybe, Bu Kiki selalu punya rangkaian kata untuk membalas itu semua. Wah cerewet juga ya?
Jadi ingat, Ibuku pun ternyata cerewet. Dengan anak perempuannya yang irit bicara ini (dulu), ibu tak pernah bosan dan lelah, juga selalu punya celah untuk cerewet pada anaknya. Ibu selalu bertanya hal - hal yang menurutku super sepele dan rasanya tak penting untuk dibahas. Dengan jawabanku yang biasanya hanya sebatas, "biasa saja", "lumayan", "bagus kok" dan jawaban malas juga singkat lainnya ibu tak pernah lelah dan terus saja cerewet. Haha (peace)
Namun, yang aku sadari sekarang, cerewetnya seorang ibu mampu membangun kedekatan diantara anggota keluarga, melatih anak berbicara dan membiasakan anak curhat pada orang tua. Dari hal yang sepele itu jugalah seorang ibu mencari tahu perkembangan anaknya sudah sampai mana tanpa ada kesan interogasi. Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa menjadi ibu yang cerewet adalah cukup penting karena alasan tadi. Aku rasanya tak akan pandai bicara, menyampaikan pendapat, dan akan memilih pelampiasan masalah ke hal lain jika ibu dulu tak secerewet itu. Kecerewetan ibu membuat anaknya merasa memiliki teman bicara meski terkadang hanya sekedar pendengar.
Dibalik itu, kata cerewet juga selalu identik dengan hal-hal negatif yaitu sifat berisik, menggurui, dan judging terkadang. Maka dari itu, cerewetnya seorang ibu pun harusnya mampu dikontrol agar apa yang keluar dari mulut senantiasa hal - hal baik dan mampu menjadi bentuk bimbingan bagi anak. Agar mampu seperti itu, caranya tentu tak mudah, harus mengisi isi kepala dengan hal-hal baik juga, berlatih mengeluarkannya dengan cara yang baik, dan teliti memilah konteks mana yang cocok dengan anak pada usia tertentu.
Sifat cerewet memang alamiah dimiliki perempuan yang mampu mengeluarkan kata sekitar 16.000/hari dibanding kamu lelaki yang hanya 7.000/hari. Jadi harusnya ini dijadikan potensi yang baik dan dilatih agar memberi kebaikan pula bukan malah sebaliknya.
I Love Ibu yang Cerewet
Juga Ibu Mertua yang Cerewet *eh
08052018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar