Hari pertama Ramadhan tahun ini rasanya berbeda. Ada perasaan penuh harap dan was - was yang kuat. Penuh harap agar Allah izinkan aku bisa sampai ke Ramadhan dan juga ada rasa was - was memikirkan jangankan sebulan penuh, mencicipi hari pertama saja tidak bisa, karena tidak ada jaminan untuk hal tersebut. Namun, ada asa dan semangat yang insyaAllah tidak kalah kuat. Asa agar selalu banyak - banyak berdoa pada Allah, karena hanya DIA yang memutuskan apapun yang terbaik sambil terus semangat menyusun target harian yang harus dicapai selama Ramadhan.
Sudah tidak asing kan dengan target-target harian ini? Misal target tilawah, sholat fardhu, sholat sunnah, amalan sunnah, dan amalan - amalan lainnya. Yaaa semacam orang sedang berlomba - lomba menjadi lebih baik dari yang terbaik. Apalagi Allah obral semua pahala selama Ramadhan. Bahkan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu emang baik banget ya, Allah beri juga kemudahan. Biasanya kita ditemani setan yang akan selalu semangat dalam hal menghalang-halangi, nah selama Ramadhan, Allah belenggu mereka.
"Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu." (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)
**Walaupun dalam beberapa penjelasan bahwa dibelenggu yang dimaksud disini hanya sebatas leher dan tangan, tapi lisan dan kaki masih bisa bergerak. Ditambah kesan terbelenggu muncul karena saking penuh berkahnya yang Allah karuniakan pada Ramadhan bagi orang yang beriman (Sumber : https://muslimah.or.id/7450-setan-dibelenggu-di-bulan-ramadhan-mengapa-masih-ada-maksiat.html)
**Walaupun dalam beberapa penjelasan bahwa dibelenggu yang dimaksud disini hanya sebatas leher dan tangan, tapi lisan dan kaki masih bisa bergerak. Ditambah kesan terbelenggu muncul karena saking penuh berkahnya yang Allah karuniakan pada Ramadhan bagi orang yang beriman (Sumber : https://muslimah.or.id/7450-setan-dibelenggu-di-bulan-ramadhan-mengapa-masih-ada-maksiat.html)
Ada yang unik pagi ini. Setelah sholat shubuh, salah satu targetku adalah tilawah Al-Qur'an 10 lembar. HP sengaja aku jauhkan, lalu semua hal yang kira - kira akan mengganggu aku hindari.
Lembar pertama dan kedua masih lancar dan aman.
Lembar pertama dan kedua masih lancar dan aman.
Lembar ketiga, tangan mulai gatal, otak mulai mencari HP dimana. Tapi, okelah masih bisa bertahan.
Lembar 4, mata mulai kabur, mulut sudah mulai pegel. Istighfar lagi.
Lembar 5, Fix! Mengantuk. Tapi masih mau memaksakan diri, "harus semangat!" pokoknya. Akhirnya memutuskan ganti posisi, pindah arah duduk.
Lembar 6, badan mulai pegel, pindah tempat duduk udah gak mempan, akhirnya tiduran dan malah ketiduran. Niat sih hanya 5 menit agar jam 6 bisa bangun dan siap - siap berangkat kerja.
Pas bangun, liat jam 6.45. Selamat, Ra! Biasanya kalau kondisi seperti ini yang disalahkan adalah setan, "Ah gara - gara syaithaanirrajiim nih". Tapi langsung inget, "Setan kan sedang dibelenggu, Ra".
Lalu, salah siapa? (Haha kebiasaan menyalahkan pihak lain dibanding introspeksi nih)
Baru satu target di hari pertama.
Gara-gara gak bisa menyalahkan setan, jadilah kepikiran kok bisa ya target tadi gagal? Bukankah harusnya lebih mudah?
Pada hakikatnya sumber maksiat bukan hanya syaithaanirrajiim, tapi juga hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang memiliki peran penting lain dalam terjadinya maksiat. Makanya, inti utama dari puasa bukan sekedar menahan makan dan minum saja, tapi yang paling penting adalah menekan hawa nafsu agar mampu menghindari hal - hal haram bahkan hal - hal sia - sia sekalipun.
Lalu boleh jadi, sebelum menghadapi Ramadhan kebiasaan kita memang belum baik dan belum disiplin meraih pahala Allah. Masih lalai, masih merasa kurang dengan nikmat Allah, sehingga untuk beribadah kurang motivasi dan belum mampu menghidupkan ibadah itu sendiri dengan penuh rasa syukur (astaghfirullah).
Atau selama ini kita terbiasa akrab dengan setan yang harusnya dimusuhi. Ya namanya juga akrab, sekedar dirayu lewat ucapan saja sudah bisa 'hayu-hayu' aja kan? Jadi, ketika tangan dan leher setan dibelenggu, mereka tetap mampu merayu dan membisiki kita untuk bermaksiat. Cuma lewat mulut lho? Jadi kamu selemah itu? (Istighfar banyak-banyak)
Kalau mengingat itu semua harusnya muncul suatu kesadaran "Apa iya, dosa dan maksiat yang selama ini terjadi asalnya dari godaan syaithaanirrajiim saja? Atau jangan - jangan kontribusi terbesar justru datangnya dari diri sendiri dan syaithaanirrajiim hanya memberi bumbu? Bahkan, mungkinkah justru kita jugalah penyebab dosa dan maksiatnya orang lain?". Na'udzubillah.
Bismillah,
17052018
1 Ramadhan 1439 H
Gambir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar